Taktik Dagang Muhammad bin Abdullah (Nabi Muhammad)

Jelas kita pernah mendengar kisah Muhammad bin Abdullah (Nabi Muhammad)  yang ikut berdagang dengan Pamannya Abu Thalib bin Abdul Muthalib saat masih berusia 8 tahun.
Dikabarkan bahwa barang dagangan Muhammad selalu habis terjual, bahkan  dikatakan juga Muhammad itu sering berangkat paling akhir dan pulang paling awal diantara rombongan dagangnya. Majikannya pun Khadijah selalu mendapat untung yang besar dari Muhammad.

Selintas kita berfikir betapa hebatnya ia yang mampu menyaingi pedagang-pedagang lain yang notabene sudah berpengalaman lebih. Tapi pernahkah terfikir oleh kita seperti apa Taktik Dagang seorang Muhammad bin Abdullah???
Meskipun usianya masih kanak-kanak, tapi ia mampu untuk mengenali karakteristik para pembeli dengan baik. Setiap pembeli yang datang jelas memiliki karakteristik yang berbeda-beda, disinilah kunci Taktik Dagang Muhammad bin Abdullah.

Muhammad menggunakan jenis transaksi yang berbeda-beda bergantung pada pembeli seperti apa yang ia hadapi. Saat menghadapi pembeli yang senang menawar, maka ia jarang mematok harga, harga ditentukan sesuai dengan kesepakatan yang didapat. Saat menghadapi pembeli yang memang tidak senang menawar maka ia mematok harga yang sesuai dan cenderung terjangkau oleh pembeli.
Bahkan saat menemui banyak pelanggan yang menginginkan satu barang yang sama (dalam waktu bersamaan), Muhammad cenderung melelang barang tersebut. Dan Muhammad tidak mencari untung yang berlebihan tapi cukup.

Kemampuan Muhammad untuk mengenali karakteristik pembelinya memang tidak aneh sebetulnya, semua manusia memiliki potensi tersebut yang dikenal dengan tekhnik profiling.

Selain ini, Muhammad pun selalu berlaku jujur dalam berdagang. Dia tidak pernah menyembunyikan kekurangan/kebaikan barang yang dijualnya, semua sifat dagangannya dibeberkan pada para pembelinya. Dengan itulah Muhammad mendapat kepercayaan dari para pembeli.

You Might Also Like To Read :
Belajar Berbisnis itu Belajar Ber-Ibadah

Advertisements

Jabatan

“Artikel ini Masih dalam Proses Pembuatan (Belum jadi)”
Ketika mendengar kata “Jabatan” biasanya yang terpikir oleh kita adalah sebuah kepemimpinan, karena biasanya memang Jabatan itu identik dengan yang namanya pemimpin. Banyak tanggapan yang berbeda-beda mengenai Jabatan, ada yang dengan senang hati menerimanya ada pula yang tidak mau menerimanya dan lain sebagainya.

Tidak perlu kita memikirkan imbalan apa yang akan kita dapatkan dengan mengambil sebuah jabatan
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”
At-Takaatsur : 1
Maksudnya: bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan.
jadi untuk apa mencari imbalan dengan mengambil sebuah jabatan?

Saat kita diberi kepercayaan memegang sebuah Jabatan, maka berusahalah untuk tidak khianat karena akan tiba suatu hari di mana kita akan dimintai pertanggung jawaban kepada Sang Maha Kuasa dan kita akan dihadapkan pada pengadilan yang seadil-adilnya. Tidak ada hakim yang Maha Adil selain Sang Pencipta.

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?”
Al-Qiyaamah : 36